NILAI KEJUJURAN DALAM CERPEN “KETUPAT GULAI PAKU” KARYA HAMSAD RANGKUTI
1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai salah satu jenis dari genre
sastra, cerpen telah memperkaya imajinasi pembacanya. Mengaitkan hal-hal yang
terkandung di dalamnya dengan kehidupan nyata selalu menjadi keasyikan
tersendiri. Terlebih hal-hal itu dikaitkan dengan nilai-nilai yang berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat, baik yang sudah membudaya maupun nilai-nilai
kebaruan ataupun nilai-nilai yang hampir musnah.
Nilai dalam tataran leksikal bermakna
sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, atau dapat
juga bermakna sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya
(KBBI, hal: 783)
Nilai dalam cerita direpresentasikan
dalam rangkaian bahasa (struktur) yang dibangun berdasarkan lingkup budaya
dengan nuansa kesastraan yang diciptakan. Dengan begitu nilai menjadi sebuah
unsur yang secara implisit dapat digali dengan mengkaji strukturnya secara
mendalam.
Dalam konstelasi kehidupan saat ini,
sudah menjadi kepastian akan hilang tumbuhnya nilai-nilai baru. Nilai-nilai
lama terkadang menjadi sesuatu yang asing pada masa kini, sementara nilai-nilai
baru menjadi sesuatu yang begitu menariknya hingga tak bisa dihindari lagi
upaya proliferasi atas nilai-nilai baru itu menjadi luar biasa masifnya.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah
struktur dan nilai yang terdapat dalam cerpen “Ketupat Gulai Paku”?
1.3 Tujuan
Kajian ini bertujuan mengetahui struktur
dan nilai yang terdapat dalam cerpen “Ketupat
Gulai Paku”
1.4 Sumber Data
Cerpen
“Ketupat Gulai Paku” (selanjutnya
disingkat KGP) adalah salah satu cerpen
yang terdapat pada kumpulan cerpen “Bibir
Dalam Pispot” karya Hamsad Rangkuti. Kumpulan cerpen ini diterbitkan
Penerbit Buku Kompas Jakarta pada bulan Maret 2003.
1.5 Kerangka Teori
Salah satu tokoh Formalisme Rusia
(peletak dasar ilmu sastra modern), Viktor Borisovitsj Sjklovski, menyatakan
bahwa sastra, sama seperti seni-seni lainnya, mempunyai kemampuan untuk
memperlihatkan kenyataan dengan suatu cara baru, sehingga sifat otomatik dalam
pengamatan dan pencerapan kita didobrak. Dengan demikian kita menjadi lebih
sadar akan kenyataan menurut sifat yang sesungguhnya (Pengantar Ilmu Sastra,
1989: 34)
2.
PEMBAHASAN
2.1
Analisis
Struktur
2.1.1
Sintaksis
Sekuen
Cerpen “KGP”
1. Ingatan
“Aku” akan gerobak dorong milik pedagang ketupat yang mangkal di depan apotek
dekat gardu listrik
1.1 Pikiran
“Aku” yang berandai-andai ingin singgah di sana sekali waktu, dan
berbincang-bincang dengan pedagangnya yang diduga datang dari kampong yang sama
dengan “Aku”, Payakumbuh.
1.2 Kesadaran
“Aku” akan penyakit pencernaannya yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi
ketupat gulai paku, apalagi pagi-pagi.
1.3 Tindakan
“Aku” yang hanya membaca selintas tulisan di kaca gerobak “Ketupat Gulai Paku”
1.4 Penjelasan
“Aku” tentang ketupat dan cara pembuatannya
1.5 Penjelasan
“Aku” tentang gulai paku dan asal muasal paku, serta beberapa jenis darinya.
2. Keadaan
“aku” yang tidak begitu sehat. Dokter menasihatinya agar banyak berolahraga
jika ingin berumur panjang
3. Tindakan
“Aku” yang berolahraga pagi dan Menemukan dunia dunia yang selama ini seolah
asing baginya.
3.1 Ingatan
“Aku” akan anak-anak sekolah yang hendak berangkat ke sekolah yang dijumpainya
ketika berolahraga pagi
4. Tindakan
“Aku” bangun lebih cepat dibandingkan pagi-pagi lainnya
4.1 Ingatan
“Aku” akan suasana subuh. Banyak hal yang dijumpainya.
4.1.1 Perjumpaan
“Aku” dengan gerobak dorong yang tergantung ketupat
4.1.2 Pikiran
“Aku” yang menduga penjual ketupat itu tinggal di rumah yang sempit dan kecil
4.1.3 Ingatan
“Aku” akan mendiang ibunya saat melihat pedagang ketupat sayur itu.
4.1.3.1 Susahnya
kehidupan yang ditanggung Ibu “aku” yang biasa menjual jeruk dan salak di depan
gedung bioskop, yang diterangi dengan lampu yang menempel di langit-langit
gedung.
4.1.3.2 Kebiasaan
“Aku” dan teman-teman sebayanya selepas pulang dari sekolah pergi ke hutan
untuk memetik pakis
4.1.3.3 Kesadaran
“Aku” mengapa di tempatnya tinggal tidak ada pakis dijual. Hal ini karena pakis
dapat dengan mudah dipetik di dalam hutan.
4.1.3.4 Pikiran
“Aku” yang menduga penduduk kota tempatnya tinggal tidak mengenal pakis
5. Tindakan
“Aku” yang tak kuasa menahan godaan untuk mencoba ketupat yang dijual pedagang
ketupat di depan apotek di dekat gardu listrik itu. Mula-mula dihirupnya aroma
gulai yang masih mengepulkan kehangatan
6. Tindakan
penjual ketupat yang menyajikan seporsi ketupat gulai kepada seorang pembeli
lain
7. Dialog
antara penjual ketupat gulai dan “Aku”
7.1 Pertanyaan
penjual ketupat kepada “Aku” dengan bahasa sekampungnya, apakah “Aku” mau
seporsi.
7.2 Pikiran
“Aku” yang menduga kalau penjual itu tahu bahwa “Aku” orang sekampung
dengannya, sebab dia ber-awak kepada
“Aku”
7.3 Penolakan
“Aku” atas tawaran seporsi ketupat gulai
7.4 Tindakan
penjual ketupat gulai yang menawarkan air putih dan diterima oleh “Aku”
7.5 Pikiran
“Aku” yang sedang dilema antara makan ketupat gulai atau mengindahkan larangan
dokter
7.6 Pernyataan penjual ketupat gulai yang
mengatakan kalau banyak orang awak yang
berada di rantau sudah melupakan makanan mereka, akibatnya dagangannya sulit
laku.
7.7 Pernyataan
timpalan “Aku” atas penyataan penjulai ketupat gulai yang seolah semua orang
dirantau tak lagi suka makanan khas, “Aku” belum bisa makan yang pedas-pedas di
hari yang masih terlalu pagi.
7.8 Pikiran
“Aku” yang menyimpulkan bahwa tidak hanya perut perantau yang berubah, bahkan
kebiasaan pun sudah berubah.
7.9 Tindakan
“Aku” yang menolak ketupat gulai saat ini.
8. Ingatan
“Aku” akan khotbah panjang dokter ihwal pantangannya, yaitu; berminyak,
berlemak dan pedas.
9. Tindakan
“aku” yang tak lagi kuasa membendung keinginannya mencoba ketupat gulai paku
itu dan pergi ke depan apotek dekat gardu listrik
10. Dialog
antara “Aku” dan penjual ketupat
10.1
Pertanyaan “Aku” tentang kabar penjual
ketupat
10.2
Jawaban penjual ketupat atas kabarnya dan
tindakan membuat seporsi ketupat buat “Aku”
10.3 Tindakan
“Aku” yang meminta dibuatkan seporsi, sambil
menghujat kepada dokter
10.4
Keheranan penjual ketupat atas perkataan
“Aku” tentang dokter.
10.5
Tindakan “Aku” yang tak mau lagi mempedulikan
nasihat dokter dan minta dibuatkan ketupat gulai
11. Tindakan
penjual ketupat gulai menyiapkan seporsi ketupat gulai buat “Aku”
12. Kekecewaan
“Aku” yang tidak menemukan gulai paku yang dirindukannya, tapi gulai kacang
buncis.
13. Dialog
“aku” dan penjual ketupat gulai
13.1
Tindakan “Aku” yang menanyakan ketupat gulai
paku seperti yang tertulis di gerobak.
13.2
Jawaban penjual ketupat gulai yang tak lagi
dapat menemukan paku
13.3
Pernyataan “Aku” kepada penjual ketupat gulai
agar tidak menulis seperti yang ada di gerobaknya
14. Pikiran
“aku” yang bersyukur sebab tidak menyentuh makanan itu dan tidak jadi melanggar
nasihat dokternya
15. Keadaan
gerobak penjual ketupat gulai yang sudah berubah, tak lagi Ketupek Gulai Paku
tapi Ketupek Gulai Buncih
16. Pikiran
“Aku” yang menilai penjual menjadi lebih jujur.
Uraian Pengaluran
Cerpen
KGP terdiri atas 16 sekuen. Dua sekuen sorot balik (1.1-1.5) dan (8).
Selebihnya merupakan sekuen yang sejalan dengan peristiwa. Berarti cerpen ini
menampilkan rangkaian cerita yang bergulir sesuai dengan jalan peristiwa.
Fungsi Utama Cerpen “KGP”
I.
Ketidaksengajaan “Aku” melihat gerobak
ketupat gulai paku tiap pagi melintas di depan apotek dekat gardu listrik.
II.
Kerinduan aku akan makanan khas daerahnya
sebab berada di rantau
III.
Ingatan “Aku” akan gulai paku di desanya dan
ibunya
IV.
Sakit yang diderita “Aku” menyebabkannya
tidak boleh mengonsumsi makanan pedas, berlemak dan berminyak
V.
Ingatan “Aku” akan nasihat-nasihat dokter
VI.
Upaya “aku” melanggar nasihat dokter sebab
sudah tak lagi dapat ditahan rasa rindunya akan ketupat gulai paku
VII.
Tindakan
“Aku” memesan seporsi ketupat gulai paku, seperti yang tertulis di gerobak
VIII.
Kekecewaan “Aku” yang tak menjumpai gulai
paku tapi buncis dalam ketupat gulai yang dibuatkan buatnya
IX.
Pembelaan diri penjual ketupat atas
tindakannya dengan alasan tak dapat menemukan paku di kota ini
X.
Saran dari “Aku” kepada penjual agar tidak
menulis Ketupek Gulai Paku pada gerobaknya
XI.
Keadaan yang sudah berubah dari gerobak
penjual ketupat gulai, tulisannya sudah diganti dengan Ketupek Gulai Buncih
XII.
Penilaian “Aku” kepada penjual yang
dianggapnya mnejadi lebih jujur.
2.1.2
Semantik
2.1.2.1
Tokoh “Aku”
“Aku”
dalam cerpen KGP adalah tokoh utama. “Aku” mengingat kembali memori masa
lalunya saat setiap kali melintas di depan apotek di dekat gardu listrik. Di
sana ada gerobak dorong milik pedagang ketupat. Gerobak dorong itu menjual
ketupat gulai paku, begitulah kira-kira yang tertulis di gerobaknya. Ketupat
gulai paku (pakis) adalah makanan yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke
dalam anyaman daun kelapa muda. Gulai paku adalah gulai sayuran semak liar yang
tumbuh di dalam hutan pada tempat-tempat basah di antara rumput-rumputan.
Tanaman paku banyak tumbuh di dataran tinggi. Daunnya yang muda tumbuh subur
berkumpul di ujung batang dan daun inilah yang dikumpulkan untuk dimasak
bersama-sama bumbu-bumbu dapur dengan santan kelapa.
“Aku”
mempunyai keingintahuan yang lebih
lagi terhadap kehadiran gerobak dan tukang ketupat gulai paku itu. Selain
karena terkenang masa lalunya, “Aku” juga penasaran ingin mencoba rasa ketupat
gulai paku itu, yang sudah lama sekali tidak dicicipinya sejak tak lagi tinggal
di kampung.
Tapi,
“Aku” masih mencoba untuk mematuhi
(patuh) pesan dan nasihat dokter. Sebab, penyakit yang dideritanya; darah
tinggi, pencernaan tidak normal, pinggang linu, penyempitan pembuluh darah ke
jantung, semua penyakit itu merupakan penghalang bagi “Aku” untuk mencicipi
ketupat gulai paku yang bersantan itu.
Selama
ini “Aku” tidak tahu sama sekali
bagaimana kehidupan awal pagi. “Aku” baru Menemukan bagaimana awal kehidupan di
pagi hari. Itu semua bisa terjadi karena saran dokter yang menyarankannya agar
berolahraga ringan yang teratur setiap pagi. Dan itu semua menyebabkan dia
makin tahu akan keberadaan penjual ketupat gulai paku itu.
Ketika
dilema dalam keadaan memakan ketupat gulai paku itu atau mematuhi nasihat/pesan
dokter, “Aku” sempat menghujat
dengan nasihat/pesan itu semua. Dengan alasan pembenaran untuk mengonsumsi
ketupat gulai paku itu (sebagai bentuk naluri etnisnya)
“Aku”
tak mampu lagi membendung keinginannya mencicipi ketupat gulai paku. Tapi,
kenyataan yang didapatnya cuma kecewa.
Sebab yang didapatnya bukan gulai paku tapi gulai buncis.
“Aku”
orang yang cukup berani menyampaikan rasa keberatannya atas tulisan pada
gerobak itu. “Kalau begitu jangan ditulis begitu di kaca itu” (Rangkuti, 2003:
72). “Aku” merasa dibohongi. Sebab yang dijual penjual ketupat itu bukan ketupat
gulai paku tapi ketupat gulai buncis.
2.1.2.2 Penjual
Ketupat
Sejak awal cerita
sebetulnya sudah ada sesuatu yang mencurigakan dari penjual ketupat gulai paku.
Dia menjual dagangannya dengan penyinaran yang remang-remang dan agak
tersembunyi lokasinya. Di depan apotek dekat gardu listrik. Bacaan di
gerobaknya “Ketupat Gulai Paku” merupakan inti permasalahannya.
Penjual ketupat orang
cukup ramah, dia menawarkan air
putih kepada “Aku” saat mendatanginya. Dia pun orang yang cukup akrab. Ini terbukti dengan panggilannya
kepada “Aku. Penjual ketupat memanggilnya dengan sebutan “Awak”.
Penjual ketupat
adalah orang yang tidak perasa. Dia
merasa tidak ada masalah antara tulisan “Ketupat Gulai Paku” di gerobaknya
dengan ketupat gulai buncis yang sesungguhnya dijualnya. Tanpa merasa bersalah
dia berdalih dengan menggunakan banyak hal. Paku (Pakis) tak lagi dapat dengan
mudah dijumpai. Dia sebenarnya telah berbohong (pembohong) kepada banyak orang. Meski begitu, dia tetap mengganti
bacaan di gerobaknya “Ketupat Gulai Buncis”. Pada suatu saat “Aku” sudah
menjumpai tulisan yang diganti pada gerobak penjual ketupat itu.
2.1.2.3 Dokter
Dokter
banyak memberi nasihat bagi “Aku”. Dia professional dengan pekerjaannya. Tokoh dokter
tidak ditampilkan secara eksplisit dalam cerita. Dokter hanya ditampilkan
berdasarkan deskripsi dan ingatan “Aku.
2.1.2.4 Ibu “Aku”
Di
dalam cerita Ibu ditampilkan berdasarkan deskripsi dan ingatan tokoh aku. Ibu
seorang yang gigih dan giat dalam
mencari rezeki. Betapa gigihnya Ibu yang menjual dagangannya -menggelar
goni- di depan gedung bioskop. Dagangan jeruk dan salaknya hanya disinari
pencahayaan seadanya dari langit-langit gedung. Hasil keuntungan dagangannya
digunakan untuk membeli beras.
Ibu juga selalu senang
saat “Aku” memberinya seikat pakis yang diperoleh dari dalam hutan.
2.1.2.5 Latar
2.1.2.4.1 Ruang
·
Di jalan di depan apotek dekat gardu listrik
adalah tempat “Aku” Menemukan gerobak dorong milik pedangan ketupat sayur.
·
“Aku”
saat ini tinggal di kota yang cukup sibuk. Seperti dalam kutipan berikut:
“Pada
saat berolahraga pagi itu aku menemukan dunia baru di sekitar tempat aku
tinggal, yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehku…Mereka bergegas
bangun dan dengan tergesa-gesa memburu kendaraan yang siap membawa mereka ke
tempat menghabiskan waktu mereka untuk mendapatkan sumber kehidupan.”
(Rangkuti, 2003:66)
·
Jalan (ruang terbuka) menjadi latar yang
dominan dalam cerpen ini.
·
Ruang dalam cerita ini dideskripsikan secara
berlawanan antara masa ketika “Aku” masih di kampung halamannya dengan keadaan
“Aku” masa kini/sekarang. Dalam pasangan berlawanan maka akan didapat:
desa><Kota, depan gedung bioskop><jalan yang ramai
2.1.2.4.2 Waktu
·
Secara umum waktu dalam cerita ini subuh
hingga pagi. “Aku” biasa menjumpai penjual ketupat itu ketika pagi. Dan ketika
rasa penasarannya makin membuncah “Aku” pun bangun lebih pagi. Ketika itulah
“Aku” seolah baru sadar bagaimana kehidupan di awal pagi yang selama ini tidak
diketahuinya.
·
Selain itu mengingat masa lalu juga
ditampilkan. Saat “Aku” mengingat masa kecilnya. Masa ketika dia pergi ke hutan
mencari paku (Pakis).
2.1.2
Pragmatik
Pencerita utama dan
satu-satunya pencerita dalam cerita ini adalah “Aku” yang sekaligus menjadi
tokoh dalam cerita. “Aku” menjadi pemandang akan semua kejadian yang ada dalam
cerita.
Aktivitas pemandangan
dipusatkan pada satu objek yaitu penjual ketupat gulai paku. Beranjak dari satu
objek pandangan itulah pencerita (“Aku”) mengingat masa lalu. Pencerita
mencerita kehidupannya ketika kecil dan menceritakan bagaimana Ibu berjualan di
depan bioskop.
Penceritaan ruang
penjual ketupat gulai paku dengan Ibu “Aku” hampir tak berbeda. Ruang yang ditampilkan
sama-sama terpencil (tidak khusus). Kesengajaan penceritaan ini guna merangsang
pengingatan “Aku” akan masa lalunya. Yang dengan demikian akan menyebabkan
penceritaan dengan pemandangan yang sejalan/searah.
2.2 Analisis Nilai Kejujuran
“Aku” ditampilkan
sebagai tokoh sentral dalam cerita ini dengan akar permasalahan yang bermula
dari dilihatnya gerobak ketupat gulai paku. Penghalang dari kisah yang bergulir
adalah sakit yang diderita “Aku”. Beranjak dari itu semua mulai tampak representasi
nilai baik secara eksplisit maupun implisit.
“Aku” secara etnis
memang menyukai ketupat gulai paku. Karena itulah dia jadi teringat akan masa
lalunya ketika dia mencari paku (pakis) di dalam hutan. Paku bukan jenis
sayuran yang bisa dijumpai di pasar di kampung halamannya. Sebab dapat dengan
mudah didapat begitu saja dari dalam hutan. Sementara keadaan itu, sungguh jauh
berbeda dengan keadaan “Aku” saat ini. Oleh karena itu ketika dijumpainya
bacaan pada gerobak itu ‘Ketupat Gulai Paku” maka kembalilah dia ke masa
lalunya.
Tapi sayang yang
dijumpai “Aku” bukan paku dalam gulai bersantan dari ketupat yang dijual
penjual itu. Dengan berbagai dalih penjual ketupat mengganti paku (pakis)
dengan buncis. Jelas ini sebuah kebohongan. “Aku” tidak bisa menerima
kebohongan yang telah dilakukan penjual ketupat itu. Baginya bacaan pada
gerobaknya harus sesuai dengan apa yang dijualnya.
Padahal “Aku” sudah
rela dan bertekad melanggar nasihat dan pesan dokter supaya tidak makan makanan
bersantan. “Aku” bersyukur masih mempertimbangkan nasihat dokter sebab memang bukan
paku yang akan disantapnya dan masih memegang kejujurannya guna memegang apa
yang dinasihatkan oleh dokter.
Tentu jadi pertanyaan
mengapa penjual ketupat merasa tak ada masalah dengan tulisan di gerobaknya
yang tidak sesuai dengan barang dagangannya. Penjual ketupat menjadi korban
kejamnya kehidupan kota yang keras. berbagai cara dilakukan manusia guna
bertahan hidup. Entah cara jujur maupun berbohong. Penjual ketupat mengambil
cara berbohong. Meski di satu sisi dapat juga dipahami mengapa dia menjual
ketupatnya di depan apotek dekat gardu listrik. Mengapa dia tak berjualan di
pasar atau jalan yang dapat dengan mudah dijumpai orang. Rupanya penjual
ketupat masih punya rasa malu. Kalau-kalau orang melabraknya. Dengan harapan di
tempat yang terpencil seperti itu, kalaupun dilabrak tak perlu dilihat banyak
orang, paling hanya dirinya dan beberapa orang pembeli. Cukup cerdik
keputusannya.
Mulut manusia menjadi
manis dan ramah luar biasa guna menutupi kekukarangnnya. Itu menjadi ciri khas
kehidupan kota yang sibuk. Bagaimana “Aku” mendapat servis yang persuasif dari
penjual ketupat dengan menggunakan bahasa-bahasa keakraban (bahasa daerah). Hal
ini dengan anggapan barang dagangannya dapat lebih diterima. Tapi rupanya “Aku”
adalah tokoh yang berwatak tegas dan melankolik. ‘Aku” menginginkan sesuatu itu
sesuai dengan apa yang ada pada kemasannya.
Representasi nilai
kejujuran menjadi utama dalam cerita ini. Kejujuran dalam kehidupan sehari-hari
menjadi hal utama. Kekacauan sering kali beranjak dari ketidakjujuran.
“Aku” sebagai
pencerita/pemandang dan tokoh dalam cerita melakukan pengamatan terhadap berbagai
hal, selain penjual ketupat itu adalah kehidupan pagi yang selama ini luput
dari perhatiannya. “Aku” seolah mengajak pembaca untuk menjadi lebih sadar
mengamati dan menyadari lingkungan sekitar agar tidak merasa asing atas
kehidupan diri sendiri dan lingkungan. Dengan demikian manusia menjadi lebih
sadar akan kenyataan yang sesungguhnya.
3.
SIMPULAN
3.1 Simpulan
Cerpen KGP adalah sebuah cerpen dengan
satu titik pengisahan yang diceritakan oleh satu pencerita tunggal dengan
pemandangan yang relatif tunggal. Ditambah dengan pengisahan kembali ke masa
lalu “Aku”. Kebiasaannya mencari paku (pakis) dan ingatannya akan Ibu yang
menjual dagangannya di depan bioskop.
“Aku” sebagai tokoh utama sekaligus
sebagai pencerita menuntut kejujuran manusia akan apa-apa yang dilakukan.
Tuntutan ini makin nyata ketika “Aku” dihadapkan pada penjual ketupat yang
telah berbohong. Dokter sempat menjadi penghalang bagi “Aku” untuk menikmati
ketupat gulai paku. Tapi ternyata “Aku” masih beruntung sebab masih
mempertimbangkan apa yang menjadi nasihat/pesan dokter.
Deraan kehidupan kota telah menuntut
penjual ketupat gulai paku menjadi berbohong. Paku telah digantinya dengan
buncis. Baginya itu tak masalah, tokh penjual ketupat itu tidak lagi bisa
menjumpai paku saat ini. Padahal jelas dia telah membohongi orang-orang yang
datang membeli barang dagangannya sebab tergoda dengan bacaan pada gerobak itu
“Ketupat Gula Paku”. Tapi kembali sejahat-jahatnya manusia tetap tidak dapat
membohongi naluri kejujurannya. Ini terbukti dengan tulisan di gerobak yang
berubah menjadi “Ketupat Gulai Buncis” setelah mendapat sanggahan dari “Aku’.
3.2 Saran
Cerpen KGP merupakan satu dari enam belas
cerpen yang dimuat dalam antologi cerpen “Bibir Dalam Pispot”. Secara umum cerita-cerita
dalam kumpulan cerpen ini mengupas kehidupan manusia secara dekat. Potret yang
menjadi titik utama adalah bahasa/kejujuran/celoteh/kebohongan (“isi mulut”). Cerpen-cerpen
dalam antologi ini akan lebih menggelitik lagi jika dikaji dengan pendekatan
masyarakat modern ataupun teori-teori kelas (marxis/kapitalisme).
DAFTAR
PUSTAKA
Luxemburg, Jan van (dkk). 1989. Pengantar
Ilmu Sastra (diindonesiakan oleh Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia
Rangkuti, Hamsad. 2003. Bibir dalam Pispot.
Jakarta: Kompas
Teeuw,
A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia
Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra (diterjemahkan
oleh Okke K.S. Zaimar dkk). Jakarta: Djambatan
Zaimar, Okke K.S. 2014. Semiotika (dalam analisis karya
sastra). Depok: Komodo Books
8777 Casino Ave, San Jose, California - Mapyro
BalasHapus8777 Casino Ave, 순천 출장마사지 San 양산 출장마사지 Jose, California. 2.3 mi 남양주 출장샵 (5.7 km) from Pacific Fair Shopping Mall. Map 평택 출장안마 of this 김해 출장마사지 neighborhood. See location information.