NILAI KEJUJURAN DALAM CERPEN “KETUPAT GULAI PAKU” KARYA HAMSAD RANGKUTI



1.   PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sebagai salah satu jenis dari genre sastra, cerpen telah memperkaya imajinasi pembacanya. Mengaitkan hal-hal yang terkandung di dalamnya dengan kehidupan nyata selalu menjadi keasyikan tersendiri. Terlebih hal-hal itu dikaitkan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, baik yang sudah membudaya maupun nilai-nilai kebaruan ataupun nilai-nilai yang hampir musnah.

Nilai dalam tataran leksikal bermakna sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, atau dapat juga bermakna sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya (KBBI, hal: 783)

Nilai dalam cerita direpresentasikan dalam rangkaian bahasa (struktur) yang dibangun berdasarkan lingkup budaya dengan nuansa kesastraan yang diciptakan. Dengan begitu nilai menjadi sebuah unsur yang secara implisit dapat digali dengan mengkaji strukturnya secara mendalam.

Dalam konstelasi kehidupan saat ini, sudah menjadi kepastian akan hilang tumbuhnya nilai-nilai baru. Nilai-nilai lama terkadang menjadi sesuatu yang asing pada masa kini, sementara nilai-nilai baru menjadi sesuatu yang begitu menariknya hingga tak bisa dihindari lagi upaya proliferasi atas nilai-nilai baru itu menjadi luar biasa masifnya.


1.2  Rumusan Masalah
Bagaimanakah struktur dan nilai yang terdapat dalam cerpen “Ketupat Gulai Paku”?

1.3  Tujuan
Kajian ini bertujuan mengetahui struktur dan nilai yang terdapat dalam cerpen “Ketupat Gulai Paku”
1.4  Sumber Data
Cerpen “Ketupat Gulai Paku” (selanjutnya disingkat KGP)  adalah salah satu cerpen yang terdapat pada kumpulan cerpen “Bibir Dalam Pispot” karya Hamsad Rangkuti. Kumpulan cerpen ini diterbitkan Penerbit Buku Kompas Jakarta pada bulan Maret 2003.

1.5  Kerangka Teori

Salah satu tokoh Formalisme Rusia (peletak dasar ilmu sastra modern), Viktor Borisovitsj Sjklovski, menyatakan bahwa sastra, sama seperti seni-seni lainnya, mempunyai kemampuan untuk memperlihatkan kenyataan dengan suatu cara baru, sehingga sifat otomatik dalam pengamatan dan pencerapan kita didobrak. Dengan demikian kita menjadi lebih sadar akan kenyataan menurut sifat yang sesungguhnya (Pengantar Ilmu Sastra, 1989: 34)

          
 2.   PEMBAHASAN
2.1         Analisis Struktur
2.1.1    Sintaksis
Sekuen Cerpen “KGP”
1.    Ingatan “Aku” akan gerobak dorong milik pedagang ketupat yang mangkal di depan apotek dekat gardu listrik
1.1 Pikiran “Aku” yang berandai-andai ingin singgah di sana sekali waktu, dan berbincang-bincang dengan pedagangnya yang diduga datang dari kampong yang sama dengan “Aku”, Payakumbuh.
1.2 Kesadaran “Aku” akan penyakit pencernaannya yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi ketupat gulai paku, apalagi pagi-pagi.
1.3 Tindakan “Aku” yang hanya membaca selintas tulisan di kaca gerobak “Ketupat Gulai Paku”
1.4 Penjelasan “Aku” tentang ketupat dan cara pembuatannya
1.5 Penjelasan “Aku” tentang gulai paku dan asal muasal paku, serta beberapa jenis darinya.
2.    Keadaan “aku” yang tidak begitu sehat. Dokter menasihatinya agar banyak berolahraga jika ingin berumur panjang
3.    Tindakan “Aku” yang berolahraga pagi dan Menemukan dunia dunia yang selama ini seolah asing baginya.
3.1 Ingatan “Aku” akan anak-anak sekolah yang hendak berangkat ke sekolah yang dijumpainya ketika berolahraga pagi
4.    Tindakan “Aku” bangun lebih cepat dibandingkan pagi-pagi lainnya
4.1 Ingatan “Aku” akan suasana subuh. Banyak hal yang dijumpainya.
4.1.1     Perjumpaan “Aku” dengan gerobak dorong yang tergantung ketupat
4.1.2     Pikiran “Aku” yang menduga penjual ketupat itu tinggal di rumah yang sempit dan kecil
4.1.3     Ingatan “Aku” akan mendiang ibunya saat melihat pedagang ketupat sayur itu.
4.1.3.1 Susahnya kehidupan yang ditanggung Ibu “aku” yang biasa menjual jeruk dan salak di depan gedung bioskop, yang diterangi dengan lampu yang menempel di langit-langit gedung.
4.1.3.2 Kebiasaan “Aku” dan teman-teman sebayanya selepas pulang dari sekolah pergi ke hutan untuk memetik pakis
4.1.3.3 Kesadaran “Aku” mengapa di tempatnya tinggal tidak ada pakis dijual. Hal ini karena pakis dapat dengan mudah dipetik di dalam hutan.
4.1.3.4 Pikiran “Aku” yang menduga penduduk kota tempatnya tinggal tidak mengenal pakis
5.    Tindakan “Aku” yang tak kuasa menahan godaan untuk mencoba ketupat yang dijual pedagang ketupat di depan apotek di dekat gardu listrik itu. Mula-mula dihirupnya aroma gulai yang masih mengepulkan kehangatan
6.    Tindakan penjual ketupat yang menyajikan seporsi ketupat gulai kepada seorang pembeli lain
7.    Dialog antara penjual ketupat gulai dan “Aku”
7.1 Pertanyaan penjual ketupat kepada “Aku” dengan bahasa sekampungnya, apakah “Aku” mau seporsi.
7.2 Pikiran “Aku” yang menduga kalau penjual itu tahu bahwa “Aku” orang sekampung dengannya, sebab dia ber-awak kepada “Aku”
7.3 Penolakan “Aku” atas tawaran seporsi ketupat gulai
7.4 Tindakan penjual ketupat gulai yang menawarkan air putih dan diterima oleh “Aku”
7.5 Pikiran “Aku” yang sedang dilema antara makan ketupat gulai atau mengindahkan larangan dokter
7.6  Pernyataan penjual ketupat gulai yang mengatakan kalau banyak orang awak yang berada di rantau sudah melupakan makanan mereka, akibatnya dagangannya sulit laku.
7.7 Pernyataan timpalan “Aku” atas penyataan penjulai ketupat gulai yang seolah semua orang dirantau tak lagi suka makanan khas, “Aku” belum bisa makan yang pedas-pedas di hari yang masih terlalu pagi.
7.8 Pikiran “Aku” yang menyimpulkan bahwa tidak hanya perut perantau yang berubah, bahkan kebiasaan pun sudah berubah.
7.9 Tindakan “Aku” yang menolak ketupat gulai saat ini.
8.    Ingatan “Aku” akan khotbah panjang dokter ihwal pantangannya, yaitu; berminyak, berlemak dan pedas.
9.    Tindakan “aku” yang tak lagi kuasa membendung keinginannya mencoba ketupat gulai paku itu dan pergi ke depan apotek dekat gardu listrik
10. Dialog antara “Aku” dan penjual ketupat
10.1    Pertanyaan “Aku” tentang kabar penjual ketupat
10.2    Jawaban penjual ketupat atas kabarnya dan tindakan membuat seporsi ketupat buat “Aku”
10.3  Tindakan “Aku” yang meminta dibuatkan seporsi, sambil  menghujat kepada dokter
10.4    Keheranan penjual ketupat atas perkataan “Aku” tentang dokter.
10.5    Tindakan “Aku” yang tak mau lagi mempedulikan nasihat dokter dan minta dibuatkan ketupat gulai
11. Tindakan penjual ketupat gulai menyiapkan seporsi ketupat gulai buat “Aku”
12. Kekecewaan “Aku” yang tidak menemukan gulai paku yang dirindukannya, tapi gulai kacang buncis.
13. Dialog “aku” dan penjual ketupat gulai
13.1    Tindakan “Aku” yang menanyakan ketupat gulai paku seperti yang tertulis di gerobak.
13.2    Jawaban penjual ketupat gulai yang tak lagi dapat menemukan paku
13.3    Pernyataan “Aku” kepada penjual ketupat gulai agar tidak menulis seperti yang ada di gerobaknya
14. Pikiran “aku” yang bersyukur sebab tidak menyentuh makanan itu dan tidak jadi melanggar nasihat dokternya
15. Keadaan gerobak penjual ketupat gulai yang sudah berubah, tak lagi Ketupek Gulai Paku tapi Ketupek Gulai Buncih
16. Pikiran “Aku” yang menilai penjual menjadi lebih jujur.
Uraian Pengaluran
            Cerpen KGP terdiri atas 16 sekuen. Dua sekuen sorot balik (1.1-1.5) dan (8). Selebihnya merupakan sekuen yang sejalan dengan peristiwa. Berarti cerpen ini menampilkan rangkaian cerita yang bergulir sesuai dengan jalan peristiwa.
                                                        Fungsi Utama Cerpen “KGP”
I.              Ketidaksengajaan “Aku” melihat gerobak ketupat gulai paku tiap pagi melintas di depan apotek dekat gardu listrik.
II.            Kerinduan aku akan makanan khas daerahnya sebab berada di rantau
III.           Ingatan “Aku” akan gulai paku di desanya dan ibunya
IV.          Sakit yang diderita “Aku” menyebabkannya tidak boleh mengonsumsi makanan pedas, berlemak dan berminyak
V.           Ingatan “Aku” akan nasihat-nasihat dokter
VI.          Upaya “aku” melanggar nasihat dokter sebab sudah tak lagi dapat ditahan rasa rindunya akan ketupat gulai paku
VII.          Tindakan “Aku” memesan seporsi ketupat gulai paku, seperti yang tertulis di gerobak
VIII.       Kekecewaan “Aku” yang tak menjumpai gulai paku tapi buncis dalam ketupat gulai yang dibuatkan buatnya
IX.          Pembelaan diri penjual ketupat atas tindakannya dengan alasan tak dapat menemukan paku di kota ini
X.           Saran dari “Aku” kepada penjual agar tidak menulis Ketupek Gulai Paku pada gerobaknya
XI.          Keadaan yang sudah berubah dari gerobak penjual ketupat gulai, tulisannya sudah diganti dengan Ketupek Gulai Buncih
XII.         Penilaian “Aku” kepada penjual yang dianggapnya mnejadi lebih jujur.


         



 

2.1.2        Semantik
2.1.2.1     Tokoh “Aku”
“Aku” dalam cerpen KGP adalah tokoh utama. “Aku” mengingat kembali memori masa lalunya saat setiap kali melintas di depan apotek di dekat gardu listrik. Di sana ada gerobak dorong milik pedagang ketupat. Gerobak dorong itu menjual ketupat gulai paku, begitulah kira-kira yang tertulis di gerobaknya. Ketupat gulai paku (pakis) adalah makanan yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda. Gulai paku adalah gulai sayuran semak liar yang tumbuh di dalam hutan pada tempat-tempat basah di antara rumput-rumputan. Tanaman paku banyak tumbuh di dataran tinggi. Daunnya yang muda tumbuh subur berkumpul di ujung batang dan daun inilah yang dikumpulkan untuk dimasak bersama-sama bumbu-bumbu dapur dengan santan kelapa.  
“Aku” mempunyai keingintahuan yang lebih lagi terhadap kehadiran gerobak dan tukang ketupat gulai paku itu. Selain karena terkenang masa lalunya, “Aku” juga penasaran ingin mencoba rasa ketupat gulai paku itu, yang sudah lama sekali tidak dicicipinya sejak tak lagi tinggal di kampung.
Tapi, “Aku” masih mencoba untuk mematuhi (patuh) pesan dan nasihat dokter. Sebab, penyakit yang dideritanya; darah tinggi, pencernaan tidak normal, pinggang linu, penyempitan pembuluh darah ke jantung, semua penyakit itu merupakan penghalang bagi “Aku” untuk mencicipi ketupat gulai paku yang bersantan itu.
Selama ini “Aku” tidak tahu sama sekali bagaimana kehidupan awal pagi. “Aku” baru Menemukan bagaimana awal kehidupan di pagi hari. Itu semua bisa terjadi karena saran dokter yang menyarankannya agar berolahraga ringan yang teratur setiap pagi. Dan itu semua menyebabkan dia makin tahu akan keberadaan penjual ketupat gulai paku itu.
Ketika dilema dalam keadaan memakan ketupat gulai paku itu atau mematuhi nasihat/pesan dokter, “Aku” sempat menghujat dengan nasihat/pesan itu semua. Dengan alasan pembenaran untuk mengonsumsi ketupat gulai paku itu (sebagai bentuk naluri etnisnya)
“Aku” tak mampu lagi membendung keinginannya mencicipi ketupat gulai paku. Tapi, kenyataan yang didapatnya cuma kecewa. Sebab yang didapatnya bukan gulai paku tapi gulai buncis.
“Aku” orang yang cukup berani menyampaikan rasa keberatannya atas tulisan pada gerobak itu. “Kalau begitu jangan ditulis begitu di kaca itu” (Rangkuti, 2003: 72). “Aku” merasa dibohongi. Sebab yang dijual penjual ketupat itu bukan ketupat gulai paku tapi ketupat gulai buncis.

2.1.2.2     Penjual Ketupat
Sejak awal cerita sebetulnya sudah ada sesuatu yang mencurigakan dari penjual ketupat gulai paku. Dia menjual dagangannya dengan penyinaran yang remang-remang dan agak tersembunyi lokasinya. Di depan apotek dekat gardu listrik. Bacaan di gerobaknya “Ketupat Gulai Paku” merupakan inti permasalahannya.
Penjual ketupat orang cukup ramah, dia menawarkan air putih kepada “Aku” saat mendatanginya. Dia pun orang yang cukup akrab. Ini terbukti dengan panggilannya kepada “Aku. Penjual ketupat memanggilnya dengan sebutan “Awak”.
Penjual ketupat adalah orang yang tidak perasa. Dia merasa tidak ada masalah antara tulisan “Ketupat Gulai Paku” di gerobaknya dengan ketupat gulai buncis yang sesungguhnya dijualnya. Tanpa merasa bersalah dia berdalih dengan menggunakan banyak hal. Paku (Pakis) tak lagi dapat dengan mudah dijumpai. Dia sebenarnya telah berbohong (pembohong) kepada banyak orang. Meski begitu, dia tetap mengganti bacaan di gerobaknya “Ketupat Gulai Buncis”. Pada suatu saat “Aku” sudah menjumpai tulisan yang diganti pada gerobak penjual ketupat itu.

2.1.2.3     Dokter
Dokter banyak memberi nasihat bagi “Aku”. Dia professional dengan pekerjaannya. Tokoh dokter tidak ditampilkan secara eksplisit dalam cerita. Dokter hanya ditampilkan berdasarkan deskripsi dan ingatan “Aku.

2.1.2.4     Ibu “Aku”
                 Di dalam cerita Ibu ditampilkan berdasarkan deskripsi dan ingatan tokoh aku. Ibu seorang yang gigih dan giat dalam mencari rezeki. Betapa gigihnya Ibu yang menjual dagangannya -menggelar goni- di depan gedung bioskop. Dagangan jeruk dan salaknya hanya disinari pencahayaan seadanya dari langit-langit gedung. Hasil keuntungan dagangannya digunakan untuk membeli beras.
                 Ibu juga selalu senang saat “Aku” memberinya seikat pakis yang diperoleh dari dalam hutan.

2.1.2.5     Latar
2.1.2.4.1 Ruang
·         Di jalan di depan apotek dekat gardu listrik adalah tempat “Aku” Menemukan gerobak dorong milik pedangan ketupat sayur.
·         Aku” saat ini tinggal di kota yang cukup sibuk. Seperti dalam kutipan berikut:
“Pada saat berolahraga pagi itu aku menemukan dunia baru di sekitar tempat aku tinggal, yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehku…Mereka bergegas bangun dan dengan tergesa-gesa memburu kendaraan yang siap membawa mereka ke tempat menghabiskan waktu mereka untuk mendapatkan sumber kehidupan.” (Rangkuti, 2003:66)
·         Jalan (ruang terbuka) menjadi latar yang dominan dalam cerpen ini.
·         Ruang dalam cerita ini dideskripsikan secara berlawanan antara masa ketika “Aku” masih di kampung halamannya dengan keadaan “Aku” masa kini/sekarang. Dalam pasangan berlawanan maka akan didapat: desa><Kota, depan gedung bioskop><jalan yang ramai
2.1.2.4.2 Waktu
·           Secara umum waktu dalam cerita ini subuh hingga pagi. “Aku” biasa menjumpai penjual ketupat itu ketika pagi. Dan ketika rasa penasarannya makin membuncah “Aku” pun bangun lebih pagi. Ketika itulah “Aku” seolah baru sadar bagaimana kehidupan di awal pagi yang selama ini tidak diketahuinya.
·           Selain itu mengingat masa lalu juga ditampilkan. Saat “Aku” mengingat masa kecilnya. Masa ketika dia pergi ke hutan mencari paku (Pakis).

2.1.2           Pragmatik
Pencerita utama dan satu-satunya pencerita dalam cerita ini adalah “Aku” yang sekaligus menjadi tokoh dalam cerita. “Aku” menjadi pemandang akan semua kejadian yang ada dalam cerita.
Aktivitas pemandangan dipusatkan pada satu objek yaitu penjual ketupat gulai paku. Beranjak dari satu objek pandangan itulah pencerita (“Aku”) mengingat masa lalu. Pencerita mencerita kehidupannya ketika kecil dan menceritakan bagaimana Ibu berjualan di depan bioskop.
Penceritaan ruang penjual ketupat gulai paku dengan Ibu “Aku” hampir tak berbeda. Ruang yang ditampilkan sama-sama terpencil (tidak khusus). Kesengajaan penceritaan ini guna merangsang pengingatan “Aku” akan masa lalunya. Yang dengan demikian akan menyebabkan penceritaan dengan pemandangan yang sejalan/searah.

2.2  Analisis Nilai Kejujuran
“Aku” ditampilkan sebagai tokoh sentral dalam cerita ini dengan akar permasalahan yang bermula dari dilihatnya gerobak ketupat gulai paku. Penghalang dari kisah yang bergulir adalah sakit yang diderita “Aku”. Beranjak dari itu semua mulai tampak representasi nilai baik secara eksplisit maupun implisit.
“Aku” secara etnis memang menyukai ketupat gulai paku. Karena itulah dia jadi teringat akan masa lalunya ketika dia mencari paku (pakis) di dalam hutan. Paku bukan jenis sayuran yang bisa dijumpai di pasar di kampung halamannya. Sebab dapat dengan mudah didapat begitu saja dari dalam hutan. Sementara keadaan itu, sungguh jauh berbeda dengan keadaan “Aku” saat ini. Oleh karena itu ketika dijumpainya bacaan pada gerobak itu ‘Ketupat Gulai Paku” maka kembalilah dia ke masa lalunya.
Tapi sayang yang dijumpai “Aku” bukan paku dalam gulai bersantan dari ketupat yang dijual penjual itu. Dengan berbagai dalih penjual ketupat mengganti paku (pakis) dengan buncis. Jelas ini sebuah kebohongan. “Aku” tidak bisa menerima kebohongan yang telah dilakukan penjual ketupat itu. Baginya bacaan pada gerobaknya harus sesuai dengan apa yang dijualnya.
Padahal “Aku” sudah rela dan bertekad melanggar nasihat dan pesan dokter supaya tidak makan makanan bersantan. “Aku” bersyukur masih mempertimbangkan nasihat dokter sebab memang bukan paku yang akan disantapnya dan masih memegang kejujurannya guna memegang apa yang dinasihatkan oleh dokter.
Tentu jadi pertanyaan mengapa penjual ketupat merasa tak ada masalah dengan tulisan di gerobaknya yang tidak sesuai dengan barang dagangannya. Penjual ketupat menjadi korban kejamnya kehidupan kota yang keras. berbagai cara dilakukan manusia guna bertahan hidup. Entah cara jujur maupun berbohong. Penjual ketupat mengambil cara berbohong. Meski di satu sisi dapat juga dipahami mengapa dia menjual ketupatnya di depan apotek dekat gardu listrik. Mengapa dia tak berjualan di pasar atau jalan yang dapat dengan mudah dijumpai orang. Rupanya penjual ketupat masih punya rasa malu. Kalau-kalau orang melabraknya. Dengan harapan di tempat yang terpencil seperti itu, kalaupun dilabrak tak perlu dilihat banyak orang, paling hanya dirinya dan beberapa orang pembeli. Cukup cerdik keputusannya.
Mulut manusia menjadi manis dan ramah luar biasa guna menutupi kekukarangnnya. Itu menjadi ciri khas kehidupan kota yang sibuk. Bagaimana “Aku” mendapat servis yang persuasif dari penjual ketupat dengan menggunakan bahasa-bahasa keakraban (bahasa daerah). Hal ini dengan anggapan barang dagangannya dapat lebih diterima. Tapi rupanya “Aku” adalah tokoh yang berwatak tegas dan melankolik. ‘Aku” menginginkan sesuatu itu sesuai dengan apa yang ada pada kemasannya.
Representasi nilai kejujuran menjadi utama dalam cerita ini. Kejujuran dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal utama. Kekacauan sering kali beranjak dari ketidakjujuran.
“Aku” sebagai pencerita/pemandang dan tokoh dalam cerita melakukan pengamatan terhadap berbagai hal, selain penjual ketupat itu adalah kehidupan pagi yang selama ini luput dari perhatiannya. “Aku” seolah mengajak pembaca untuk menjadi lebih sadar mengamati dan menyadari lingkungan sekitar agar tidak merasa asing atas kehidupan diri sendiri dan lingkungan. Dengan demikian manusia menjadi lebih sadar akan kenyataan yang sesungguhnya.


   
3.   SIMPULAN
3.1  Simpulan
Cerpen KGP adalah sebuah cerpen dengan satu titik pengisahan yang diceritakan oleh satu pencerita tunggal dengan pemandangan yang relatif tunggal. Ditambah dengan pengisahan kembali ke masa lalu “Aku”. Kebiasaannya mencari paku (pakis) dan ingatannya akan Ibu yang menjual dagangannya di depan bioskop.
“Aku” sebagai tokoh utama sekaligus sebagai pencerita menuntut kejujuran manusia akan apa-apa yang dilakukan. Tuntutan ini makin nyata ketika “Aku” dihadapkan pada penjual ketupat yang telah berbohong. Dokter sempat menjadi penghalang bagi “Aku” untuk menikmati ketupat gulai paku. Tapi ternyata “Aku” masih beruntung sebab masih mempertimbangkan apa yang menjadi nasihat/pesan dokter.
Deraan kehidupan kota telah menuntut penjual ketupat gulai paku menjadi berbohong. Paku telah digantinya dengan buncis. Baginya itu tak masalah, tokh penjual ketupat itu tidak lagi bisa menjumpai paku saat ini. Padahal jelas dia telah membohongi orang-orang yang datang membeli barang dagangannya sebab tergoda dengan bacaan pada gerobak itu “Ketupat Gula Paku”. Tapi kembali sejahat-jahatnya manusia tetap tidak dapat membohongi naluri kejujurannya. Ini terbukti dengan tulisan di gerobak yang berubah menjadi “Ketupat Gulai Buncis” setelah mendapat sanggahan dari “Aku’.

3.2  Saran
Cerpen KGP merupakan satu dari enam belas cerpen yang dimuat dalam antologi cerpen “Bibir Dalam Pispot”. Secara umum cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini mengupas kehidupan manusia secara dekat. Potret yang menjadi titik utama adalah bahasa/kejujuran/celoteh/kebohongan (“isi mulut”). Cerpen-cerpen dalam antologi ini akan lebih menggelitik lagi jika dikaji dengan pendekatan masyarakat modern ataupun teori-teori kelas (marxis/kapitalisme).



DAFTAR PUSTAKA

Luxemburg, Jan van (dkk). 1989. Pengantar Ilmu Sastra (diindonesiakan oleh Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia

Rangkuti, Hamsad. 2003. Bibir dalam Pispot. Jakarta: Kompas

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia

Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra (diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar dkk). Jakarta: Djambatan

Zaimar, Okke K.S. 2014. Semiotika (dalam analisis karya sastra). Depok: Komodo Books

Komentar

  1. 8777 Casino Ave, San Jose, California - Mapyro
    8777 Casino Ave, 순천 출장마사지 San 양산 출장마사지 Jose, California. 2.3 mi 남양주 출장샵 (5.7 km) from Pacific Fair Shopping Mall. Map 평택 출장안마 of this 김해 출장마사지 neighborhood. See location information.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini