Merajanya kekerasan fisik dan verbal:
Aksi brutal dan sadis yang dekat
Siapa yang tidak marah?
Tidak cemas? Atas tindakan brutal dan sadis yang dilakukan oleh sejumlah remaja
laki-laki di Bengkulu yang sedang menjadi isu hangat saat ini. Ada empat belas
remaja laki-laki, lima orang dari remaja laki-laki itu masih berstatus sebagai
pelajar. Apa yang mereka lakukan? Memerkosa secara bergilir seorang remaja
perempuan yang berusia empat belas tahun, bahkan mereka memerkosa remaja itu
hingga dua kali. Kemudian mereka membunuh korban. Setelah, korban dibunuh
secara sadis, mereka melempar korban ke jurang. Bukan, tentu ini bukan sebuah
cerita fiksi. Tetapi sebuah kenyataan. Sebuah kebrutalan dari sejumlah remaja.
Ada apa dengan mereka? Mengapa
mereka berbuat senekat dan sebrutal itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi
begitu sulit dijawab. Sebab aksi brutal dan sadis mereka itu adalah tanggung
jawab setiap kita bangsa, ya setiap warga negara ini. Orang tua, guru,
masyarakat, pemerintah wajib mempertanggungjawabkan itu semua dalam bentuk apa
pun.
Kasus yang terjadi menimpa “YY”
ini bukan jenis baru. Belum begitu lama, seorang siswa sekolah dasar dibunuh
setelah diperkosa dan dimasukkan ke dalam kardus. Artinya kasus semacam ini
bisa terjadi dengan jumlah yang lebih intens atau meningkat. Bisa terjadi di
mana pun,kapan pun, siapa pun.
Sebetulnya aksi brutal dan
sadis itu dekat sekali dengan kehidupan masyarakat saat ini. Televisi,
internet, Koran, majalah, komik, bahkan game,
semua menyuguhkan kebrutalan dan kesadisan. Bentuk dan cara penyampaian aksi
brutal itu pun berbeda-beda. Ada yang
melalui aksi verbal dan ada pula yang melalui aksi fisik atau gabungan aksi
verbal dan fisik.
Menjumpainya pun gampang
sekali. Suguhan aksi brutal dan sadis verbal tinggal nyalakan televisi saja.
Ada anggota parlemen, petinggi pemerintahan, gubernur, artis film/sinetron,
artis komedi bahkan hingga juri-juri ajang pencarian bakat.
Anggota parlemen yang ribut
secara verbal dan beraksi brutal saat sidang bukan cerita baru.
Gubernur/petinggi negara yang secara verbal begitu sadis bahkan bertindak
brutal, misal: menggusur perkampungan tanpa pertimbangan dan berkata kasar.
Artis film/sinetron yang menyuguhkan cerita sadis dan brutal. Komika yang
secara verbal sadis dan brutal. Mereka menyampaikan guyonan-guyonan yang sarkas
dan menghina. Tidak ketinggalan juri-juri ajang pencarian bakat yang
mengomentari peserta lomba dengan komentar-komentar pedas kasar.
Betapa dekat dan mudah
masyarakat menjumpai aksi sadis dan brutal. Lantas apakah kita
sekonyong-konyong marah atas aksi remaja di Bengkulu itu? tentu tidak bisa.
Sebab kita adalah bagian dari aksi kekerasan, kesadisan dan kebrutalan itu. “Anak polah, bapak kepradah”. Artinya
orang tua mempunyai peran besar di sini. Masyarakat mempunyai peran kontrol,
pemerintah mempunyai peran pengatur kebijakan yang seharusnya memonitoring dan
mengevaluasi. Ayo, semua unsur kembali dan menjalankan perannya secara baik dan
bertanggungjawab. Sehingga dapat tercipta generasi unggul yang akan menciptakan
masyarakat beradab.***TRN
Komentar
Posting Komentar