Muruah Bahasa dan Bangsa

Oleh: Taufiqurrahman*


Setiap tiba di bulan Oktober, Bangsa ini pasti memperingati hari Sumpah Pemuda

pada tanggal 28. Salah satu ikrar dalam Sumpah Pemuda adalah menjunjung bahasa

persatuan, bahasa Indonesia. Beranjak dari ikrar itu pula, setiap bulan Oktober diperingati

sebagai bulan bahasa. Tetapi, sepatutnya kita tidak menjadi euforia dengan perayaannya.

Tentu banyak hal penting yang harus dibenahi berkaitan dengan bahasa Indonesia.

Khususnya, bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari

jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Bicara bahasa Indonesia di sekolah tidak bisa lepas dengan label literasi. Karena,

memang ihwal literasi bangsa ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat. Perlu

kesungguhan dan kerja sama dari semua pihak dalam upaya mengatasi masalah ini.

Menurut data PISA (Program for International Student Assessment) dan OECD (Organization

for Economic Co-operation and Development) dua tahun lalu, Indonesia menempati

peringkat 62 dari 72 negara yang disurvei. Tentu kenyataan ini menjadi pertanyaan bagi kita

semua, seteruk itukah kemampuan literasi bangsa ini?

Menjawab pertanyaan tersebut, seperti sebuah retorika. Bagaimana tidak, sebab

pelajaran bahasa Indonesia yang sudah diajarkan sejak bangku sekolah dasar hingga

perguruan tinggi, seperti tidak membuahkan hasil yang maksimal untuk peningkatan literasi

anak bangsa. Padahal anak Indonesia belajar bahasa Indonesia lebih dari 12 tahun. Tetapi,

pada kenyataannya kemampuan anak Indonesia dalam memahami, mengevaluasi, dan

merefleksikan bacaan masih rendah. Berarti, harus diambil jalan dan formula yang tepat

dalam meramu pembelajaran di sekolah.

Semua, mata pelajaran berperan dalam meningkatkan literasi, itu jalan penting yang

harus diambil. Dan, menghentikan label bahwa literasi itu hanya melekat pada pelajaran

bahasa Indonesia. Hal ini patut betul-betul disepakati oleh setiap warga sekolah. Mengapa

begitu? Karena semua mata pelajaran di sekolah disampaikan dalam bahasa Indonesia, baik

secara lisan atau pun tulis. Beranjak dari sini, ayo para pendidik sama-sama berefleksi,

bagaimana upaya yang dilakukan dalam memampukan siswa memahami pelajaran dengan

rangkaian kalimat yang disusun dan digunakan? Apakah kalimat-kalimat, baik yang berupa

penjelasan, instruksi, atau pun pernyataan umum, sudah disampaikan dengan bahasa yang

baik sehingga dapat dimengerti? Ini menjadi sangat penting, karena dengan demikian akan

tumbuh komunikasi efektif yang baik dan menumbuhkan upaya peningkatan daya pikir

siswa.

Formula yang dapat dilakukan dalam peramuan pembelajaran di sekolah antara lain,

menyusun perencanaan kesamaan dan keseragaman bahasa yang bermakna dari setiap

warga sekolah, khususnya pendidik, dalam berkomunikasi dengan siswa. Baik dalam proses

pembelajaran yang tertulis atau pun lisan. Sehingga, setiap pendidik akan berusaha

menyusun kalimat-kalimat efektif yang bermakna yang dengannya akan tumbuh pemikiran

kritis dari diri siswa. Jadi, setiap pendidik wajib hukumnya menciptakan rumusan bahasa


yang baik dan bermakna dalam pelajaran yang diampunya. Selain itu, pendidik juga harus

dilatih secara internal, bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasanya.

Formula lain yang dapat dirancang adalah menyusun buku-buku atau hand out

pelajaran bahasa Indonesia yang bermakna, yang tidak bertumpu kepada buku cetak, tapi

lebih kepada esensi kurikulum pelajaran. Dengan demikian, pendidik berupaya memperkaya

siswa dengan bacaan-bacaan yang up to date. Memang ini bukan pekerjaan yang gampang,

tetapi dengan melakukan ini, upaya utama yang akan muncul adalah kekayaan informasi

yang dimiliki siswa setelahnya.

Tentu, ini merupakan sebuah harapan dan “khayalan” yang mungkin akan hanya

menjadi harapan dan “khayalan” selama tidak pernah dimulai. Cara termudah memulainya

adalah dengan mempraktikkannya di lingkup terkecil. Sehingga dengan rumus optimisme

lama-kelamaan akan tumbuh dan menular kepada semua warga sekolah. Harapan

terbesarnya adalah tumbuhnya literasi pada anak bangsa ini yang tentunya akan

memberikan dampak perubahan positif bagi kemajuan bangsa. Tidak diragukan lagi, seiring

dengan meningkatnya kemampuan literasi bangsa ini, maka kita memang sedang

mempersiapkan Indonesia Emas di tahun 2045 dan perayaan bulan bahasa di setiap bulan

Oktober pun bukan hanya sekadar perayaan semata, tetapi memang menjadi sebuah

perayaan bagi bermuruahnya bahasa Indonesia dan bangsa yang berliterasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini