KELISANAN DAN KELITERASIAN (Dua hal yang harus sejalan) Bila bicara literasi tidak elok rasanya bila tidak disentuh dulu apa itu lisan. Kemajuan literasi sebuah bangsa tidak dapat lepas dari sejarah dan proses kelisanannya. Kelisanan di Indonesia berjalan seiring dengan perkembangan keliterasiannya. Hal ini dapat dibuktikan dari beragamnya tradisi lisan di Indonesia hingga hari ini. Keberagaman tradisi lisan itu pun diikuti juga dengan keberaksaraan. Hampir semua wilayah di Indonesia telah bersinggungan dan mengenal aksara/huruf jauh sebelum aksara latin masuk ke Nusantara. Jadi, sungguh tidak bisa dimungkiri bahwa literasi di Indonesia sudah ada sejak dahulu, jauh sebelum gaung keliterasian digadangkan. Memang, tingkat dan media literasinya tentu berbeda dalam tiap masanya. Lisan secara bahasa bermakna ucapan atau tuturan. Kemampuan bertutur dianggap sebagai kemampuan yang mudah dan mempunyai tingkat kesulitan yang rendah ketimbang kemampuan berliterasi. Sebab, hampir tia...
Postingan
Menampilkan postingan dari Agustus, 2016
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Merajanya kekerasan fisik dan verbal: Aksi brutal dan sadis yang dekat Siapa yang tidak marah? Tidak cemas? Atas tindakan brutal dan sadis yang dilakukan oleh sejumlah remaja laki-laki di Bengkulu yang sedang menjadi isu hangat saat ini. Ada empat belas remaja laki-laki, lima orang dari remaja laki-laki itu masih berstatus sebagai pelajar. Apa yang mereka lakukan? Memerkosa secara bergilir seorang remaja perempuan yang berusia empat belas tahun, bahkan mereka memerkosa remaja itu hingga dua kali. Kemudian mereka membunuh korban. Setelah, korban dibunuh secara sadis, mereka melempar korban ke jurang. Bukan, tentu ini bukan sebuah cerita fiksi. Tetapi sebuah kenyataan. Sebuah kebrutalan dari sejumlah remaja. Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka berbuat senekat dan sebrutal itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi begitu sulit dijawab. Sebab aksi brutal dan sadis mereka itu adalah tanggung jawab setiap kita bangsa, ya setiap warga negara ini. Orang tua, guru, masyarakat, pemer...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PEMBUKTIAN PENJAMBRETAN YANG GAGAL DALAM CERPEN "PISPOT" KARYA HAMSAD RANGKUTI (SEBUAH KETIDAKSUNGGUHAN DAN PEMBIARAN) Cerpen "Pispot" Karya Hamsad Rangkuti ditulis pada tahun 80-an. Tetapi, masalah yang terjadi di dalamnya masih relevan dengan keadaan di negeri ini hingga hari ini. Masalah dalam cerpen “Pispot” adalah menyangkut perhatian terhadap kebutuhan rakyat kecil, tugas penegakan hukum (kinerja), fasilitas/akses kesehatan, dan pembiaran. Upaya penegakan hukum yang sudah dimulai oleh “Aku” saat menangkap Lelaki Tertuduh (selanjutnya disingkat LT) sebagai pelaku penjambretan terhadap seorang korban (perempuan) tidak membuahkan hasil. Keadilan yang seharusnya ditegakkan seadil-adilnya tidak tercapai. Hal ini disebabkan penegak hukum, yaitu polisi, tidak bekerja secara maksimal dan sungguh-sungguh. Polisi melakukan pekerjaannya seolah hanya formalitas saja. Proses hukum yang dilakukan terhadap LT tidak berhasil membuktikan bahwa LT telah me...