Lima isu penting dalam tulisan “Tentang Membaca dan Menilai Karya Sastra” A. Teeuw”
Lima isu penting
dalam tulisan
“Tentang Membaca dan
Menilai Karya Sastra” A. Teeuw”
Karya
sastra baik secara lahiriah maupun bahasa berbeda dengan teks-teks lainnya.
Misal, dalam segi bentuk (puisi) ada kekhasan yang tidak dimiliki dan dilakukan
oleh penulis teks lain (di luar sastra). Tapi secara umum manusia (pembaca)
dapat secara otomatis menebak bahwa sebuah teks itu karya sastra atau bukan,
meski penilaian itu bisa jadi masih serampangan.
Memahami
sebuah teks sastra, seorang pembaca ataupun penelaah teks seolah dihadapkan
pada sebuah dunia kecil yang mempunyai kompleksitas hampir serupa dengan
kehidupan nyata. Beranjak dari hal inilah ada beberapa hal yang patut
digarisbawahi agar teks dapat dibaca dengan baik dan dapat menilainya dengan
tepat.
Berikut
ini merupakan paparan beberapa isu yang dapat diangkat dan digarisbawahi dari
tulisan “Membaca dan Menilai Karya Sastra.
1. Teks
sastra merupakan sebuah kesatuan kode independen yang tidak dapat dipisahkan
dari bagian-bagiannya dan tidak satupun teks sastra yang lahir di luar lingkup
bahasa. Bahasa merupakan salah satu kode yang wajib dipahami agar pembaca dapat
membaca dan menilai karya sastra.
Sebagai
proses pemberian makna pada teks yang di dalamnya terdapat sistem kode
yang cukup rumit, kompleks dan bervariasi
Bahasa merupakan kode pertama yang harus dipahami. Sebagai contoh;
ketika dihadapkan pada teks dalam bahasa Jawa Kuno atau bahasa lain, sudah
menjadi kewajiban pembaca harus mampu membaca dalam bahasa itu sebaik-baiknya
dan mampu memahami arti dari bahasa itu. Di samping memahami kode bahasanya,
pembaca pun wajib memahami kode budayanya. Dengan memahami kode budayanya maka
akan dapat dimaknai ke arah mana teks tersebut menuju. Selain kode bahasa dan
budaya, ada kode sastra yang tidak kalah penting sebagai syarat guna memahami
teks sastra. Kode ini sangat penting. Sebab dalam kode ini proses pemberian makna
dari pembaca menuntut adanya kreativitas yang membawanya ke luar
kemampuan/dunia bahasanya sehari-hari.
|
Teks/karya
sastra
|
|
Kode bahasa
|
|
Kode budaya
|
|
Kode sastra
|
Tapi
dengan kemajuan teknologi saat ini, sepertinya kode bahasa tak lagi menjadi
titik penting yang rumit untuk dibaca dan dipahami. Mengingat pada masa
sekarang ada banyak program-program computer (teknologi) yang dapat dengan
mudah menerjemahkan sebuah teks dalam banyak bahasa. Dalam hal ini saya percaya
bahwa teknologi telah menggeser peran pemahaman kode bahasa dalam sebuah teks
(sastra). Tapi karena kekhasan kode bahasa pada teks (sastra) maka ada saja
bagian darinya yang tidak dapat begitu saja mampu dipahami atau ditelaah oleh
kemajuan teknologi.
2. Sastra
sebagai sebuah dunia rekaan yang menggunakan bahasa sebagai sarana
komunikasinya. Sama halnya dengan dunia nyata, dunia bersastra sesungguhnya
sudah diakrabi manusia sejak dia kecil, yaitu ketika dia bermain atau ketika
dinyanyikan lagu/senandung khas bayi, contoh:
keplok
ami-ami
walang
kupu-kupu
awan
maem roti
bengi
mimic susu
dari contoh senandung khas bayi di
atas jelas sekali bahwa betapa akrab manusia dengan sastra. Hamper setiap
budaya mempunyai senandung khas bayi yang lahir sesuai dengan latar belakang
budaya yang berlaku.
Dan
hebatnya lagi karya sastra dapat dengan cepat dikenali manusia melalui tanda
lahiriah sebagai aspek sinyal yang memberikan peringatan kepada pembaca/manusia
bahwa dia berhadapan dengan karya sastra.
3. Kode
sastra tidak dapat lepas dari kode bahasa. Dalam teks sastra bahasa yang
digunakan harus bebas dari belenggu maknanya. Bahasa harus independen, konvensi
bahasa yang ada selama ini telah menghalangi kebebasan bergerak, begitu
pendapat Sutardji.
Tetapi bagaimanapun bahasa sebagai
sarana dalam bersastra secara pengarang sastra menganggap bahasa itu sebagai
kawan bukan lawan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa yang dalam
kehidupan sehari-hari tidak bermakna justru dalam bahasa sastra dapat dan harus
diberi makna. Dua hal prinsip universal utama yang berfungsi dalam kode bahasa
sastra adalah: prinsip ekuivalensi/kesepadanan, prinsip deviasi/penyimpangan.
Kode sastra merupakan sistem konvensi.
Ketika pembaca dihadapkan pada karya sastra maka harapannya sebagai pembaca
ditentukan oleh sinyal (kode) yang diterimanya. Kode sastra merupakan kode
asasi yang merupakan dunia otonom yang tidak terikat kepada dunia nyata dan
tidak menunjukkan pada dunia nyata.
Kode sastra mempunyai relevansi,
signifikansi dalam dunia rekaan yang dibangun berdasarkan kode bahasanya. Karya
sastra harus dilihat secara utuh, sebagai sebuah konvensi yang bulat.
4. Karya
sastra sebagai konvensi dalam sistem yang utuh. Tapi pada kenyataanya pembaca
modern mengharapkan karya sastra yang menentang konvensinya. Hal ini tentu
tidak dapat dipungkiri, sebab dalam masyarakat tradisional pun norma dan
konvensi tidak statis, tidak tetap untuk selama-lamanya. Hal ini menunujukkan
betapa dinamisnya sastra.
5. Membaca
sastra adalah kegiatan yang aneh, yang lucu, yang dari segi logika barangkali
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Guna memahami kenisbian nilai maka
diperlukan pembelajaran nilai kemanusiaan. Manusia pembaca adalah homo
significans: pemberi makna, melalui dunia rekaan, kepada kehidupannya;
pengungkap kebenaran keberadaannya dalam dunia nyata yang dijalani/dihadapinya.
Referensi:
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra.
Gramedia: Jakarta
Dimana saya bisa mendapatkan buku ini ya ?
BalasHapus